Pelajaran Dari Sarah, Si Bocah Pengamen



 
Jakarta, 4 November 2014
siang itu panas sekali, terik matahari serasa membakar kulit. Aku menunggu temanku untuk berangkat ke CP untuk acara relawan. Ku percepat langkahku menuju sebuah pohon yang tak jauh dari tempatku berdiri. Pohon tersebut cukup untuk bernaung, kupikir itu pohon mangga. Kulirik jam tanganku dan ternyata masih menunjuk di angka 12. Pantas saja panas sekali !! jalan raya sesak oleh kendaraan, hal yang lumrah kupikir di kota metropolitan ini. ku amati wajah para pengendara itu, mereka tampak lelah, kesal, bahkan marah mungkin. Ahh Indonesia !!! mataku lalu menangkap anak kecil yang sedang menyeberangi jalan itu menuju ke arahku. Ohh...rupanya dia pengamen. Dia tersenyum padaku. Anak yang manis !! dia duduk tidak jauh dari tempatku berdiri. Dia terlihat letih, dengan cucuran peluh membasahi bajunya yang compang. Mungkin dia merasa gerah juga dan merasa pohon ini dapat meneduhkannya. Dia mengeluarkan recehan dari kantong plastik sambil menghitungnya. Didekatnya ada seorang nenek, kupikir dia juga pengamen. Kemudian sarah memberikan sebagian recehan yang dia dapat ke nenek tua itu. Nenek itu terlihat bahagia sekali, memuji tuhan dan mendoakan bocah kecil itu sebelum akhirnya dia pergi.
Kudekati anak kecil itu,  dan dia tersenyum ramah padaku lagi, senyum khas anak indonesia hehe. Dia manis, kupikir. Kami berkenalan. Namanya sarah, umurnya 6 tahun. Dari cerita sarah, aku tahu kalau ternyata dia anak yatim, dia tinggal bersama ibu dan adiknya. Ayahnya meninggal satu tahun yang lalu.  Ibunya seorang buruh cuci yang hanya mendapat upah 20 ribu sehari. Ibunya sakit dan dia tidak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit. Akhirnya sarah berhenti sekolah dan membantu ibunya untuk mencari uang. Lalu aku teringat dengan sarah yang tadi memberikan recehan kepada nenek itu. Aku bertanya kepada sarah kenapa dia memberikan sebagian uangnya kepada nenek itu ?bukankah sarah pun masih sangat membutuhkannya?. “sarah kasihan kak, nenek tadi belum makan dari kemarin, sarah mah bisa ngameng lagi kak” jawab sarah polos. Ku amati wajah bocah ini, hatiku miris. Sarah telah menampar nuraniku. Bagaimana mungkin bocah 6 tahun bisa berbagi dengan tulus, meskipun dia tahu kalau dia dalam keadaan sulit. Aku menunduk, malu terhadap diriku. Aku lebih dewasa daripada sarah. Tapi selama ini aku masih kekanak-kanakan. Aku egois, hanya mementingkan diri sendiri. Ohh tuhan...!!!!  Ku peluk sarah dan berterima kasih. Dalam kesulitannya, kesederhanaannya dan kepolosannya sarah telah mengajarkanku arti berbagi tanpa pamrih, bermanfaat bagi orang lain. Mulai sekarang aku ga mau jadi orang egois lagi, ga mau mementingkan diri sendiri. Setidaknya orang lain akan bernafas lega dengan kehadiranku. Terima kasih sarah atas pelajaran yang sangat berharga. Terima kasih. !!!!  

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH : Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam (Syirkah)

Cuap cuap

puisi : pianis