Jakarta, 4 November 2014 siang itu panas sekali, terik matahari serasa membakar kulit. Aku menunggu temanku untuk berangkat ke CP untuk acara relawan. Ku percepat langkahku menuju sebuah pohon yang tak jauh dari tempatku berdiri. Pohon tersebut cukup untuk bernaung, kupikir itu pohon mangga. Kulirik jam tanganku dan ternyata masih menunjuk di angka 12. Pantas saja panas sekali !! jalan raya sesak oleh kendaraan, hal yang lumrah kupikir di kota metropolitan ini. ku amati wajah para pengendara itu, mereka tampak lelah, kesal, bahkan marah mungkin. Ahh Indonesia !!! mataku lalu menangkap anak kecil yang sedang menyeberangi jalan itu menuju ke arahku. Ohh...rupanya dia pengamen. Dia tersenyum padaku. Anak yang manis !! dia duduk tidak jauh dari tempatku berdiri. Dia terlihat letih, dengan cucuran peluh membasahi bajunya yang compang. Mungkin dia merasa gerah juga dan merasa pohon ini dapat meneduhkannya. Dia mengeluarkan recehan dari kantong plastik sambil menghitungnya. D...
Sang pianis pria pria duduk di depan piano Benar-benar tenggelam dalam musik yang dia mainkan Ekspresinya sedih dan kesepian seperti musiknya Permainannya menakjubkan Bersandar di dinding pintu masuk Aku mendengarkan dengan terpesona Dia seperti musisi yang handal Dia duduk telanjang, tubuhnya bermandikan cahaya hangat Disinari oleh lampu yang berdiri sendiri di samping piano Dengan sisa ruangan besar dalam kegelapan Ini seperti dia berada terisolasi di kolam kecilnya sendiri dari cahaya Tak tersentuh Kesepian, di dalam gelembung
Tulisan ini saya posting sebagai bentuk rasa prihatin saya terhadap fakultas kita tercinta. Bukan karena desakan dari salah satu pihak, apalagi karena membela satu pihak. Ini hanya tulisan seorang mahasiswa sok tahu yang merasa peduli ! Sahabat terkasih Euforia Pemira sangat terasa dan sudah menjadi rahasia umum jika kedua organisasi raksasa saling bersaing mendapatkan tempat di fakultas kita. Lalu apakah itu menjadi sebuah masalah? Sy rasa tidak. Bukankah ini wajar didunia perkuliahan? Bahkan tidak jarang mereka saling menjelekkan bahkan menganggap diri paling benar. Saya maklumi, mungkin saudara khilaf !. Namun ketika saudara menggunakan kata organisasi "sebelah" rasanya seperti membelah kita, seolah-olah memecah kita warga FEB. Bicaralah, tidak usah ditutupi !! Kita tahu betul betapa pengkotak-kotakan ini membuat kita tidak nyaman. Membuat kita muak Sahabat sekalian... Hingga akhirnya seorang dari kita maju dengan melabelkan diri sebagai independent. Seorang yan...
Komentar
Posting Komentar