Jakarta, 4 November 2014 siang itu panas sekali, terik matahari serasa membakar kulit. Aku menunggu temanku untuk berangkat ke CP untuk acara relawan. Ku percepat langkahku menuju sebuah pohon yang tak jauh dari tempatku berdiri. Pohon tersebut cukup untuk bernaung, kupikir itu pohon mangga. Kulirik jam tanganku dan ternyata masih menunjuk di angka 12. Pantas saja panas sekali !! jalan raya sesak oleh kendaraan, hal yang lumrah kupikir di kota metropolitan ini. ku amati wajah para pengendara itu, mereka tampak lelah, kesal, bahkan marah mungkin. Ahh Indonesia !!! mataku lalu menangkap anak kecil yang sedang menyeberangi jalan itu menuju ke arahku. Ohh...rupanya dia pengamen. Dia tersenyum padaku. Anak yang manis !! dia duduk tidak jauh dari tempatku berdiri. Dia terlihat letih, dengan cucuran peluh membasahi bajunya yang compang. Mungkin dia merasa gerah juga dan merasa pohon ini dapat meneduhkannya. Dia mengeluarkan recehan dari kantong plastik sambil menghitungnya. D...
aku suka memerhatikan manusia, melihat tingkah laku mereka yang unik membuat aku sadar betapa menariknya ciptaan Tuhan ini.. Dalam keterbatasan penilaian, sering kali kita dihadapkan dengan dilema terutama ketika kita menghadapi manusia. "dealing with people is tiring". Pengalaman memberi pelajaran begitu banyak tapi di satu sisi juga mengambil sesuatu dari kita yang membuat kita tidak sama lagi. Membuat kita tidak utuh. Pengalaman 7 tahun hidup di Jakarta sangat merubah perspektif dan bagaiamana aku bersikap. Kadang aku merasa apa yang kualami saat ini seperti mimpi
Pahlawan tanpa nama Tentang waktu yang tak terjamah di lorong pesakitan, ada dinding kusam Meninggalkan luka mencabik sang tokoh Akulah pahlawan itu, yang sering kali kau alpakan Namaku bahkan tak tertulis dalam buku sejarah yang kau eja di bangku pendidikan Jasad yang tertimbun bongkahan tanah subur Percikan darah masih tersisa memerah di nisan sana aku menuntut atas nama ribuan prajurit yang gugur dalam medan perang alih-alih kau buat hancur rumah kami, negeri yang kami bangun dari kucuran keringat melecut sana sini, bilang untuk tuan rumah malahan kau cekik leher penghuninya akulah pahlawan itu, yang tidak kau jumpa wajahku bahkan tidak pernah terlukis di kertas para seniman aku nyata dan akan selalu mengawasi kalian
Komentar
Posting Komentar